Cerpen

Percakapan Hujan.


Sore itu. Pi berjalan lelah. Ah, sial sekali hari ini. Aku tak dapat uang di hari yang mendung, pikirnya didalam hati. Hujan pun turun. Tidak membawa payung. Sial sekali Pi hari ini. Dia berlari ke stasiun untuk berteduh. Ramai. Apalagi itu tempat yang penuh dengan mahasiswa, para pencari gelar yang terhormat.

Pi tertegun melihat keadaan. Semua orang sibuk dengan smartphone nya masing-masing. Sibuk dengan urusan nya masing-masing. Dia keluarkan smartphone dari saku. Menunggu hujan. Menarik sekali untuk berbagi suasana dengan dia yang jauh disana. Pikirnya

Pi     : hari ini tidak bersahabat shi
Shi   : kenapa ?
Pi     : lihatlah rintik hujan, banyak orang berlalu lalang dan hanya aku yang berteduh.
Shi   : apa orang-orang tidak memperhatikan hujan.
Pi     : aah. .sepertinya mereka terlalu sibuk dengan masa depan.
Shi   : masa dpn ? Bukankah hujan juga masa dpn, dari sisi yg lain
Pi     : mereka tidak memperhatikan itu..
Shi   : mulai sekarang pi harus memperhatikan. Nikmati saja karena hujan adalah kabar baik dari Allah.
Pi     : hem. Hujan semakin deras shi, bocah pembawa payung berusaha keras. .
Shi   : untuk lembaran kertas yang disebut rupiah kah ?
Pi     : ohh, hidup memang keras.
Shi   : dan tugas kita memecahkannya.
Pi     : ah shi, aku bingung dengan kata memecahkannya.
Shi    : tak perlu terburu-buru mengambil kesimpulan tentang hidup, seperti menikmati hujan, tak usah mengeluh lihatlah setelah hujan tak ada lagi debu, daun-daun jadi lebih hijau, bunga bermekaran, kupu-kupu terbang riang, dan udara menjadi lebih segar.
Pi     : dan bocah pembawa payung, tersenyum bahagia ditengah rintiknya.
Shi    : karena hujan adalah kabar baik, benar bukan, Allah membagi rizkinya dengan banyak cara

 

Petir Di Siang Hari


    Waktu terus berlalu. Aku melewati kisah ini dengan terus mengingatnya. Rio benar benar hebat menyimpan perasaan itu untuk Dina.Ya, Dina. Hanya dia seorang yang selalu ada dalam pikirannya. Malam tiap malam dilewatinya. Mimpi demi mimpi melihat wajahnya.
    Namun, malam ini hatinya gundah. Galau. Ingin sekali Rio menelponnya. Ahh, gila nih. Telpon ngga ya? Kenapa tiba tiba aku jadi pengen denger suara nya? Pikirnya.
    Rio selama ini hanya bisa bersenda gurau lewat SMS. Dia takut mengganggu Dina kalau harus menelpon. Dina meneruskan kuliah selepas lulus sekolah. Dan Rio memilih untuk terjun menjadi pekerja. Dina dan Rio memang sangat dekat. Begitu dekat. Hingga di suatu saat pacar Dina  pun cemburu dengan kedekatan mereka berdua. Ah, dunia terasa indah sekali waktu itu. Pikir Rio. Dia bisa menggandeng tangannya. Melihat senyumnya. Wuihhh, ngga akan hilang dipikirannya. Walaupun kepalanya terbentur batu sekali pun.
    Fine, seperti nya aku udah ngga tahan untuk mendengar suaranya. Tut, tut, tut, "Halo", sapa Dina dari telpon.
    "Halo Din", begitu sumringahnya Rio malam ini. "Ada apa Rio, tumben kamu telpon aku", tanya Dina dengan suara khasnya.
    "Ngga papa ko Din, cuma mau telpon kamu aja. Ngga ganggu kan?", jawab Rio dengan klasik nya. Sepanjang malam mereka berdua berbincang kesana kemari. Hingga disuatu pertanyaan yang membuat situasi menjadi kaku.
    "Kamu ngga mau cari pacar Din?", tanya Rio yang mulai kehabisan bahan obrolan.
    "Lagi asik sendiri. Belum mau punya pacar", jawab Dina lancar. Tapi tidak dengan hatinya Rio yang sedari tadi dag, dig, dug, ser.
    "Emang disono ngga ada cowo yang ganteng Din?", tanya Rio dengan tawa nya yang renyah.
    "Ia nih, ngga ada yang ganteng disini", jawab Dina dengan tawa nya yang lembut. Syukur deh. Kan aku jadi tenang disini. Pikir Rio dalam hati.
    Rio mengakhiri obrolan telponnya. Wajah yang sumringah. Ngga bisa dipungkiri lagi. Rio kasmaran malam itu. Walau dia ngga bisa melihat wajah Dina secara langsung, mendengar suaranya sudah bisa menutupi sebagian rindunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar